Kitsune
oleh Fyed · 18 April 2026 pukul 21.28
SINOPSIS KITSUNE キツネ物語 Romantic Comedy • Fantasy • Action Fyed adalah seorang pria biasa berusia 28 tahun yang hidupnya berputar di antara rutinitas kantor dan rumah kosong yang terlalu sunyi. Segalanya berubah pada malam ketika ia menemukan seekor rubah putih terluka di teras rumahnya. Tanpa berpikir panjang, ia merawat rubah itu dengan sepenuh hati — memberinya makan, mengobati lukanya, dan memberinya nama: Kitsune. Namun Kitsune bukan rubah biasa. Ia adalah keturunan rubah ekor sembilan, seorang Yokai yang bersembunyi dari kelompok pemburu supernatural. Saat wujud aslinya terungkap — seorang gadis cantik bermata keemasan dengan telinga dan ekor rubah — kehidupan tenang Fyed berakhir selamanya. Terlebih ketika Aria, teman masa kecilnya yang kini menjadi Hunter profesional, muncul kembali dengan pedang terhunus dan masa lalu yang belum selesai. Terjebak di antara cinta posesif seorang Yokai dan gengsi setinggi langit teman masa kecilnya, Fyed harus menghadapi perang domestik sehari-hari yang melibatkan rebutan dapur, konspirasi kamar tidur, dan insiden kamar mandi yang tidak akan pernah bisa ia lupakan. Tapi di balik tawa dan kekacauan, bayangan ancaman yang lebih besar mulai mendekat — dan keluarga kecil mereka akan bertambah saat tragedi di pegunungan bersalju mempertemukan mereka dengan Yukihime, seorang gadis remaja setengah Yuki Onna yang baru saja kehilangan segalanya. Kitsune adalah kisah tentang seorang pria biasa yang menemukan keluarga di tempat yang paling tidak terduga — dan tentang keberanian untuk melindungi mereka, meskipun ia tidak memiliki sihir, pedang, atau kekuatan apa pun selain hati yang menolak untuk menyerah. "Rumah ini memang sudah gila. Tapi setidaknya, tidak pernah sepi." — Fyed
# Chapter 1: Pertemuan di Ambang Malam
Angin malam berhembus lebih dingin dari biasanya ketika Fyed melangkah gontai menuju beranda rumahnya. Dua belas jam lembur dengan atasan yang hobinya mengomel bukan resep terbaik untuk menjaga kewarasan. Pundaknya pegal, matanya perih, dan satu-satunya hal yang membuatnya tetap melangkah adalah bayangan kasur empuk dan secangkir teh hijau yang mengepul.
Namun, langkahnya terhenti tepat di anak tangga terakhir.
Di bawah pendar lampu teras yang temaram, sesosok gumpalan bulu putih tergeletak tak berdaya. Seekor rubah. Napasnya tersengal lemah, dan bercak merah darah menodai bulu seputih saljunya. Fyed berjongkok, mengamati makhluk kecil itu. Luka cakar memanjang di sisi perutnya, cukup dalam untuk membuat Fyed meringis.
"Siapa yang melakukan ini padamu...?"
Ia tahu jawaban logisnya: hubungi pusat penyelamatan hewan, serahkan pada ahlinya, lalu masuk rumah dan tidur. Tapi rubah itu mengeluarkan suara rintihan pelan—nyaris tak terdengar, seperti menelan rasa sakitnya sendiri. Tangan Fyed bergerak lebih cepat dari otaknya. Ia merengkuh tubuh mungil yang gemetar itu, membawanya masuk ke dalam kehangatan rumah.
Malam itu menjadi malam yang sibuk. Rencana teh hijau dan kasur empuk digantikan oleh air hangat, handuk bersih, dan kotak P3K yang isinya hampir kedaluwarsa. Fyed membasuh darah dan kotoran dari bulu putih itu dengan hati-hati, sesekali bergumam minta maaf setiap kali tubuh si rubah menegang karena sentuhan di area luka. Setelah mengeringkan bulunya dan mengoleskan salep antiseptik, Fyed membalut luka-lukanya dengan perban—hasilnya memang berantakan, tapi setidaknya cukup rapi untuk seekor hewan.
Tepat saat perban terakhir terpasang, mata rubah itu terbuka.
Sepasang netra keemasan menatap Fyed. Bukan tatapan hewan biasa yang bingung atau ketakutan. Ada sesuatu di balik mata itu—kecerdasan, penilaian, seakan makhluk kecil ini sedang mengukur apakah Fyed layak dipercaya atau tidak. Detik berikutnya, insting bertahannya menyala. Rubah itu memamerkan taringnya dan mengeluarkan geraman rendah, bersiap menerkam.
Fyed tidak mundur. Ia hanya mengangkat kedua tangannya perlahan.
Namun ancaman itu tidak pernah terwujud. Tubuh yang terluka dan perut yang keroncongan mengkhianati tekad si rubah. Kakinya goyah, dan ia ambruk kembali ke atas karpet dengan bunyi *plop* yang menyedihkan.
"Sudah selesai akting galaknya?" gumam Fyed, sudut bibirnya terangkat tipis.
Ia tidak punya persediaan daging mentah—isi kulkasnya hanya telur, nasi sisa kemarin, dan sebotol saus tiram. Jadi ia menghangatkan semangkuk susu dan meletakkannya perlahan di dekat moncong si rubah.
Sang rubah membuang muka. Keemasan matanya melirik mangkuk itu, lalu melirik Fyed, lalu kembali ke mangkuk. Jelas tertarik, tapi gengsi menghalangi.
"Aku tidak akan menyakitimu," ucap Fyed. Ia mundur hingga ke ujung ruangan, duduk di sofa, dan membuka ponselnya—pura-pura sibuk membaca berita agar si rubah tidak merasa diawasi.
Hening.
Lalu, suara jilatan kecil memecah keheningan. Pelan-pelan, malu-malu, tapi konsisten. Fyed tidak menoleh, tapi senyumnya mengembang di balik layar ponsel.
"Besok," bisiknya pada dirinya sendiri, "aku harus beli daging."
---
Fyed menepati janjinya. Keesokan harinya, ia pulang membawa daging ayam dan sapi dari pasar, sesuatu yang tidak pernah ia beli untuk dirinya sendiri karena terlalu malas memasak. Rubah itu menyantapnya dengan lahap, meski tetap menggeram pelan setiap kali Fyed mendekat.
Hari kedua, geraman itu berkurang.
Hari ketiga, si rubah membiarkan Fyed mengganti perbannya tanpa berontak, meski ekornya menegang sepanjang proses.
Hari kelima, Fyed terbangun dengan rubah itu meringkuk di ujung kasurnya—sejauh mungkin dari Fyed, tapi tetap di atas kasur yang sama.
"Oh, jadi sekarang kasurku cukup bagus untukmu?" gumam Fyed, setengah tertawa. Si rubah hanya memejamkan mata lebih erat, berpura-pura tidak dengar.
Pada hari ke sepuluh, tembok kewaspadaan runtuh sepenuhnya. Fyed sedang menonton TV setelah makan malam ketika ia merasakan beban hangat di pahanya. Si rubah—yang kini sudah ia beri nama Kitsune—memanjat ke sofa dan merebahkan kepalanya di pangkuan Fyed tanpa permisi. Bulu putihnya yang kini bersih dan sehat terasa seperti sutra di bawah jari-jari Fyed.
"Kau ini... mau galak atau mau manja, pilih salah satu," kata Fyed, tapi tangannya sudah bergerak mengelus kepala Kitsune. Telinga mungil itu berkedut pelan, dan Fyed bisa merasakan tubuh kecil di pangkuannya perlahan meleleh—otot-ototnya mengendur, napasnya melambat.
Untuk pertama kalinya, Fyed mendengar Kitsune mendengkur.
Suara itu kecil, hampir seperti getaran halus, tapi di ruangan yang sunyi itu terdengar jelas. Fyed menghentikan tangannya sejenak—dan dengkuran itu langsung berhenti. Kitsune mengangkat kepalanya, menatap Fyed dengan tatapan yang seolah berkata: *kenapa berhenti?*
"Iya, iya. Maaf, Yang Mulia."
Fyed kembali mengelus, dan dengkuran itu kembali mengisi ruangan.
Sejak malam itu, rutinitas mereka terbentuk dengan sendirinya. Fyed memasak—keterampilan yang terpaksa ia asah karena Kitsune jelas lebih pilih-pilih soal makanan daripada kucing mana pun—sementara Kitsune duduk di dekat kakinya, mengawasi proses memasak seperti kritikus kuliner berbulu. Saat Fyed mandi, Kitsune menunggu di depan pintu kamar mandi, dan setelah beberapa kali percobaan (yang melibatkan Kitsune melompat ke bathtub karena penasaran dan langsung menyesal), mereka menemukan sistem yang berhasil: Fyed memandikan Kitsune terlebih dahulu di wastafel dengan air hangat, mengeringkannya sampai mengembang seperti bola kapas, baru kemudian mandi sendiri.
Di malam hari, Kitsune tidak lagi tidur di ujung kasur. Ia melingkar tepat di samping bantal Fyed, kadang menyusupkan moncongnya ke lekuk leher Fyed saat udara malam terlalu dingin.
Bagi Fyed yang sudah bertahun-tahun tinggal sendirian di rumah ini, kehadiran Kitsune mengubah segalanya. Rumah yang dulu hanya tempat ia pulang untuk tidur, kini menjadi tempat yang ingin ia pulang dengan cepat. Setiap malam, saat ia membuka pintu dan disambut oleh derap kaki kecil yang berlari ke arahnya, ekor putih mengibas penuh antusiasme, Fyed merasakan sesuatu yang sudah lama absen dari hidupnya.
Ia tidak lagi sendirian.
Dan tanpa ia sadari, makhluk kecil bermata keemasan itu merasakan hal yang persis sama.
Nilai komunitas
—/5
Masuk untuk memberi nilai.
Komentar
Daftar datar (tanpa thread). Balas dengan menyebut @username di teks.
Izu | イズ
@izu
@fyed I love the story progression, dan kyknya menarik ya nulis cerita semi harem begini, hahah, I'll try it later. One thing mungkin, buat aku, settingnya membuatku bingung pekerja kantoran, hunter, kitsune yg bisa magic. masuk akal, cuma membutuhkan penggambaran setting yang benar2 konsisten aja sih.
Fyed
@fyed
@izu thank you masukan nya pak. Bisa di terapkan buat kedepannya
Masuk sebagai kreator yang disetujui untuk berkomentar.