[Hiatus] Yori Sayatsuki - Ketulusan dalam Sangkar Emas
oleh Izu | イズ · 19 April 2026 pukul 13.25
Menjadi 'accessible' idol menjadikan Iori-chan (Yori Sayatsuki) sangat terkuras. Semua orang memandangnya sebagai sesuatu yang terlalu istimewa, bukan sebagai manusia biasa. Semenjanalah dambaan Iori untuk kehidupannya. Ia hampir melupakan mimpinya untuk bisa kembali menjadi semenjana. Namun, citanya kembali terketuk saat bertemu Izu. Mampukah pertemuannya dengan Izu menuntunnya kembali menjadi manusia seutuhnya?
Hujan masih menyisakan tempias mungil yang tetap membasahi jiwa yang lelah. Derit rintiknya masih menyanjung dan memuji tubuh yang rela terjaga selagi sebagian yang lainnya bernapas teratur dalam salindia mimpi.
Aroma petrikor menguar, menyeruak ketika Izu menghidu segar yang berbeda dengan sejuk AC di tempat kerjanya. Aspal masih basah, memantulkan cahaya lampu jalan berwarna jingga menyala seperti potongan kaca yang tersebar. Malam itu terlalu tenang untuk kota sebesar Tokyo—atau mungkin cuma terasa begitu, karena Izu sedang sendirian. Seperti biasanya, Izu memasang kabel earphone ke ponselnya, lalu memutar beberapa lagu untuk menemani perjalanan pulangnya.
Izu berjalan pelan. Capek. Kepala masih penuh sisa kerjaan.
“Ah, tadi udah bener belum ya itungan uang di mesin kasir. Rak sektor makanan belum aku cek tadi kayanya…”
Lalu...
klik.
Sesuatu kecil jatuh di depan Izu.
“Eh?”.
Sesosok orang berjalan cepat beberapa meter di depan Izu. Hoodie hitam, masker, topi yang ditarik hingga hampir menutupi wajahnya. Terlalu tertutup untuk sekadar “jalan malam biasa.” Dari tinggi badannya, rambut, dan *ahem bagian dada, sepertinya dia perempuan.
Insting Izu bilang… ada yang aneh.
“Masa iya maling?”
Izu melihat lagi ke bawah.
Sebuah keychain kecil—akrilik, bergambar karakter chibi. Ada nama di belakangnya, tapi setengah tertutup goresan.
Izu mengambilnya.
Izu dalam hati: “Kayaknya terlalu imut buat seorang maling, Eh…”
Terkejut karena perempuan itu sudah semakin jauh, Izu refleks memanggil, setengah berteriak. Dia tidak menoleh, malahan, langkahnya makin cepat.
Izu mulai mengejar. Mengimbangi kecepatan langkah kakinya yang dipercepat.
“Ano… Ini jatuh, Kakak, ada barangnya yang jatuh!”
Dia belok ke gang sempit tanpa ragu.
Izu bertanya sendiri dalam benaknya, “Serius? ke situ, bukannya itu gang buntu.?”
Sekarang ini bukan lagi soal balikin barang. Ini jadi terkesan… mencurigakan.
Langkah Izu makin cepat. Suara sepatu kena genangan air memecah keheningan.
“Oi! Tunggu!” Izu menyeru.
Perempuan itu berhenti mendadak. Sangat mendadak hingga Izu hampir menabraknya. Dan kali ini, perempuan itu menoleh ke arahnya.
Matanya, adalah hal pertama yang Izu lihat. Tajam. Waspada. Siap melawan jika perlu.
Perempuan misterius itu bertanya, suaranya sedikit redam karena maskernya, “kamu siapa, mau apa?” Rasa cemas jelas tampak di matanya, tetapi suaranya sama sekali tidak gentar.
Izu mengangkat tangan sedikit, menunjukkan bahwa aku tidak berbahaya.
“Tenang, aku cuma—ini tadi jatuh.”
Izu menyodorkan gantungan kunci yang sebelumnya ditemukannya itu.
Perempuan itu tidak langsung mengambilnya. Tatapannya turun sebentar ke tanganmu. Lalu balik lagi ke matamu. Seolah-olah lagi “mengukur.”
“Tiga detik? Lima detik?, Njir, ni cewek ngapain dah malah kayak terpesona ketampanan kasir yang aduhai ini.” Izu membatin.
“Kamu ngikutin aku sejak dari mana?”
Cepat-cepat Izu menyambar, “koreksi, bukan ngikutin. Kamu yang ngejatuhin ini. Aku pikir ini penting karena ada namanya, tapi mau aku balikin, kamu malah menjauh.”
“Gimana kalau kamu pura-pura?”
Izu menghela napas pendek, “Kalau aku niat jahat, aku gak bakal manggil dari tadi. Lagian dengan manggil-manggil, kalo aku jahat nih ya, kan akan menarik perhatian orang lain juga.”
Sunyi lagi. Izu sadar betapa bodohnya yang barusan dia katakan.
Air menetes dari pipa paralon talang kedai tahu yang ada di dekat gang. Hawa dingin mulai menghasut Izu untuk segera pulang jika urusan ini selesai.
Akhirnya, dia mendekat satu langkah. Masih sangat hati-hati. Masih menjaga jarak aman.
“Dikata aku ini hewan buas apa sampai segitunya” Bola mata Izu memutar.
Tangan perempuan itu sigap menyambar gantungan kunci yang aku letakkan di telapak tangan Izu yang menengadah.
“…arigatou.”

Nada suaranya berubah sedikit. Masih dingin, tetapi ada getar tipis. Entah karena masih ketakutan, lega, atau karena memang sangat dingin.
Izu mengangguk santai. “Iya. Lain kali jangan lari gitu. Aku jadi berasa kriminal, tau.”
Kembali hening sedetik… dua detik… Entah, mungkin perempuan itu tersenyum di balik maskernya. Ketika menyadarinya, ia segera mengubah air mukanya. Membuat dinding penghalang tak terlihat itu gegas menjulang kokoh kembali.
“Kalau ada yang tanya kamu lihat siapa malam ini, bilang tidak ada.”
Dia berbalik sebelum Izu sempat menjawab.
Langkahnya cepat lagi. Kali ini lebih terkontrol. Izu berdiri di situ beberapa detik, melihat perempuan itu melangkah meninggalkannya.
Aneh.
Harusnya ini selesai. Barang sudah kembali. Orangnya pergi. Selesai.
Tapi entah kenapa, momen barusan terulang kembali. Terus-menerus di kepala Izu.
Di kejauhan, perempuan tadi sempat berhenti. Hanya sebentar. Tangannya menggenggam gantungan kunci itu sedikit lebih erat.
“…aneh.”
Bisiknya pelan.
Untuk pertama kalinya, malam itu, dia menoleh ke belakang untuk orang asing den
gan tulus.
Sayangnya, Izu sudah tidak ada di sana.
つづく
Nilai komunitas
—/5
Masuk untuk memberi nilai.
Komentar
Daftar datar (tanpa thread). Balas dengan menyebut @username di teks.
Faris Nanami
@faris
Apakah dia "cegil"?
Faris Nanami
@faris
@izu ini honest opinion ku. Ini story punya inti emosi yang ok - adegan kombininya berisi overall aku bisa menikmati ini. 👍terutama yang suka trope idol x orang biasa. Tapi ini masih draft yang belum dibersihkan. Ada bagian yang bikin pembaca keluar dari cerita, jalurnya agak dipaksakan supaya mereka ketemu. So far - I am intrigued to read more.
Fyed
@fyed
Di tunggu sambungannya. Semangat pak buat lanjutin
Izu | イズ
@izu
haiii @faris sensei to @fyed senpai. akan kuperbaiki dan post lebih banyak part. Terima kasih
Izu | イズ
@izu
@faris, sedikit tapi berusaha tidak menampilkan (krn jaim sih, pan idol) hahaha, any feesback is welcome, ehehe
Masuk sebagai kreator yang disetujui untuk berkomentar.