BuP
oleh Salman · 8 Juni 2026 pukul 07.49
Sinopsis Kazimir tidak pernah belajar cara bermain. Ia hanya belajar cara bertahan hidup. Lahir di reruntuhan Eropa pasca-nuklir, ia dan krunya — Peter, Poli, Allegra, dan Felix — menghabiskan bertahun-tahun bertarung di turnamen Illegal Sensha-do demi makan dan tempat berteduh. Bukan olahraga. Bukan permainan. Perang dengan nama lain. Kini dunia berpura-pura sudah pulih. Jepang bersinar, turnamen resmi Sensha-do digelar dengan spanduk neon dan hologram tank yang menari-nari di atas musik pop. Kazimir dan krunya tiba membawa luka-luka di baja mereka yang tidak bisa dipalsukan oleh siapapun — dan langsung berhadapan dengan Mael Tatsuri, Komandan Le Justice Academy, yang tersenyum seolah ia belum pernah sekalipun kelaparan. Mereka bermain untuk menang. Kazimir bermain karena sudah terlalu lama bermain untuk hidup. Bedanya? Ia tahu cara mengakhiri permainan. - Salman
Seorang anak berumur sepuluh tahun, lutut tergores akibat merangkak di badan tank Panzer IV curian. Tangan kecil yang gemetar saat paman berteriak seperti lecutan cambuk yang dipukul ke tanah keras. "Lebih cepat, кулон, atau aku akan mengikatmu di roda!" ucapnya. Permainan yang dimaksud bukanlah benar-benar permainan — bukan di tanah terlantar tak berpenghuni di pecahan Eropa, di mana awan jamur masih menggelantung di ujung cakrawala dan "bertahan hidup" berarti menjadi hantu di dalam kuburan besi.
Illegal Sensha-dō bukanlah olahraga bagi kami, melainkan alat tukar. Menang, dan kau makan. Ragu, maka namamu akan tercetak di bawah jejak tank.
Pamanku adalah tentara bayaran, veteran perang dari batalion yang sudah lama terlupakan. Sepanjang hidupnya ia selalu tertawa — tapi kali itu berbeda. Amunisi yang nyasar di tengah medan pertempuran mengubah Tiger I menjadi peti mati baja yang terbakar seperti tungku kayu. Kadang aku memimpikannya: bayangannya berdiri diterangi nyala api, mengangkat botol bir sebagai hormat terakhir, berkata "Sekarang giliranmu memimpin, bocah! Pimpin, atau berbaring selamanya!" Aku memimpin. Aku berbohong. Aku bertahan dalam tekanan.
Setelah pamanku tiada, aku, Peter, Poli, Allegra , dan Felix mengikuti turnamen ilegal menggunakan tank. Ya — tank yang sama yang pernah digunakan untuk membunuh ribuan, bahkan jutaan nyawa — kini kami pakai hanya untuk mendapat makan, tempat berteduh, dan sekadar bertahan hidup. Lama-kelamaan kami sadar bahwa kami sangat mahir dalam hal ini: berdansa di dalam tumpukan baja lapis baja tebal sementara peluru tank beterbangan ke segala arah.
Tapi itu dulu. Sekarang dunia berpura-pura sudah pulih dari masa itu.
Jepang modern bersinar seperti berlian yang dipoles halus dan disorot lampu yang terik — tak tersentuh oleh kebusukannya dunia di masa perang. Turnamen yang digelar untuk para pelajar dalam piala dunia Sensha-do seolah memperlakukan alat militer seperti mainan anak-anak. Para penyelenggara tersenyum dan bicara soal "protokol keselamatan", "kompetisi yang ramah", bla bla bla, dan semacamnya. Mereka bahkan tidak tahu bahwa armor Panzer VII Löwe milikku menyimpan luka-luka yang tak bisa ditiru oleh tank replika mana pun. Bagi mereka, itu hanya dekorasi — cat lecet atau goresan buatan supaya terlihat gagah. Tapi bagi kami? Itu semua nyata.
Aku muak. Kata-kata mereka tidak lebih dari omong kosong belaka. Lagipula, apakah mereka mengerti apa yang kami lalui selama bertahun-tahun hanya untuk bertahan hidup? Kurasa tidak.
Saat kami tiba di aula turnamen, seisi ruangan berdengung seperti sarang lebah. Spanduk berwarna neon menyala terang bertuliskan "PEACE THROUGH PANZER!" dalam bahasa Inggris, sementara hologram tank berputar-putar di atas langit-langit. Gadis-gadis berseragam rok lipit cekikikan sambil menggenggam teh matcha mereka. Laki-laki berkemeja jaket sekolah berdebat soal kecepatan peluru. Tempat ini sangat berbeda — terlalu tenang. Waktu itu aku pernah melihat kawanku memakan tikus, dan itu hal yang biasa. Mungkin sekarang aku sedang berada di planet lain.
Kru kami duduk santai di meja dekat stan makanan ringan, menjadi tontonan para pelajar lain. Pihak stan memberi kami makan gratis satu hari, sesuka kami.
Poli, dengan tubuh besar dan wajah yang belum dicukur, mengenakan jaket olahraga dua ukuran lebih kecil — sedang membongkar tempura udang seolah makanan itu punya utang padanya. Peter, si pemain panggung sejati dengan gaya Amerika yang kental, sedang beraksi di depan sekelompok mahasiswa baru yang melongo, memutarkan kacamata aviator-nya. "Di Nevada dulu, kami adu tembak sambil menghadang tornado! Kalian pernah coba menembak di tengah badai pasir?" Allegra, berbalut kardigan pink pastel, tengah mengoleskan glitter ke kuku Felix sambil bersenandung Dancing Queen. Felix sendiri, seperti biasa, asyik mengutak-atik peralatan di tangannya.
Aku berjalan mengambil kopi, berharap suasana tetap beradab — lalu tiba-tiba Allegra melemparkan ciuman ke arahku.
"Jangan goda orang asing, Capo! Mukamu terlalu masam — mereka bakal kira kau pembunuh berantai!" katanya. Poli ikut nimbrung, nyengir lebar dengan mulut masih penuh udang. "Kalau bunuh, pakai sekop. Tenang."
Aku hanya menggeleng sambil mendekati mesin espresso. Tapi baru setengah jalan, seseorang muncul.
Mael Tatsuri. Si Duri Berbalut Beludru.
Kerumunan terbelah seolah ia memancarkan feromon kesombongan murni. Mael Tatsuri — Komandan Akademi Le Justice — melangkah dengan kelonggaran malas seekor macan tutul yang tak pernah kelaparan. Seragamnya adalah perpaduan apik antara busana angkatan laut Perancis dan sentuhan samurai; jari-jari bersarung tangannya mengetuk-ngetuk ritme di hulu katana hiasan yang terselip di pinggangnya. Dua pengikut setia membuntutinya di belakang, tersenyum sinis tanpa alasan jelas.
Saat aku mencoba menghindarinya, ia tidak benar-benar menabrakku — ia membiarkan bahuku menyerempet bahunya, seperti sengaja. Sepertinya ia ingin memancing reaksi, atau sekadar merasa istimewa.
"Excuse moi," ucapnya lembut, memiringkan kepala hingga cahaya menangkap matanya yang heterokromia — satu safir, satu obsidian. Aku sempat mengira itu palsu, tapi ternyata asli; kecuali yang obsidian itu, mungkin ia pakai softlens untuk mempergelapnya. "Para Débutants, sebaiknya jaga langkah. Ini bukan padang reruntuhan, non?" Senyumnya sungguh menyebalkan — beruntung baginya. "Ah, tapi betapa kasarnya aku! Kalian pendatang baru dari mana tadi? Ah, ya — Nuclear Nowhere."
Kata-kata itu membuatku mengepalkan tangan. Ia mencoba memancingku. Asap sudah kurasakan di dada — tapi sebelum aku sempat membalas, ia sudah pergi bersama anggota sekolahnya yang tertawa-tawa dan melanjutkan lelucon mereka.
Mencoba melupakan apa yang baru saja terjadi, aku menghela nafas panjang dan melanjutkan langkah menuju mesin espresso. Saat jemariku menekan tombolnya, mesin itu mendesis pelan — menuangkan kopi hitam pekat yang seolah tahu betul seperti apa suasana hatiku saat ini. Setelah mengambil satu cangkir, aku berbalik menuju meja tempat kru menunggu.
Jujur, aku masih sedikit jengkel. Pikiran itu terus berputar sebelum akhirnya aku mengangkat bahu dan membiarkannya pergi — atau setidaknya mencoba. Aku pernah menghadapi hal yang jauh lebih buruk dari sekadar seorang pria dengan senyum mahal dan lidah tajam. Tapi ada sesuatu dari caranya yang menyebalkan — seolah keberuntungan yang selalu berpihak padanya ia anggap sebagai bukti bahwa ia memang tak tertandingi. Seperti orang yang lahir di garis finish lalu berjalan seolah ia yang paling keras berlari.
Saat aku mendekati meja, alis Poli mengerut. Kunyahannya yang tadinya lahap melambat — matanya mengunci ke arahku dengan tatapan tajam seekor predator yang merasakan sesuatu bergerak di udara. Ia tahu ada yang terjadi, bahkan sebelum aku duduk. Begitu tubuhku menyentuh kursi, rahangnya berhenti sama sekali.
Allegra, yang membaca suasana hatiku seperti membaca peta medan perang, perlahan menghentikan tangannya dari kuku Felix. Tubuhnya sedikit mencondong ke depan — dramatis, tentu saja, tapi memang begitulah ia.
"Uh-oh."
Ia melirik sekeliling meja. "Siapa yang membuat Kazimir marah?"
Sebelum yang lain sempat menjawab, Peter — tanpa ragu, tanpa izin — meraih cangkir kopiku dan meminumnya. Satu tegukan. Baru kemudian ia menjawab, dengan senyum miring yang sudah sangat aku kenal.
"Mael."
Singkat. Padat. Cukup.
Felix mengangkat pandangan dari meja kerjanya. Kunci pas tergeser sedikit, nyaris menyenggol alat komunikasi yang masih setengah terburai di hadapannya — radio rongsokan dari bunker Soviet tua, hasil jarahan di masa-masa paling kelam sebelum Jepang menjangkau kami lewat jaringan gelap para mantan pejuang yang kini mengincar panggung Sensha-dō. Felix tidak berkata apa-apa. Tidak tersenyum juga. Hanya menatap sebentar, lalu kembali ke pekerjaannya — dan entah kenapa, itu sudah cukup bicara.
"Dan itu kopi ku, Peter."
Aku mengambil cangkir dari tangannya dan meminumnya — tersisa setengah, padahal aku bahkan belum sempat menyentuhnya sama sekali. Peter mengangkat kedua tangan, gaya orang yang tertangkap basah.
"Maaf Capo. Cuma mau ngecek racunnya dulu."
Yang lainnya hanya terdiam.
Aku menatap cangkir di tanganku — kopi itu hitam seperti gelapnya bunker tanpa penerangan di tengah malam. Keramaian turnamen terus menggores dari kejauhan: gadis-gadis cekikikan memilih tim sesuka hati, hologram tank berdansa mengikuti irama musik pop, seolah baja dan peluru tidak lebih dari dekorasi pesta. Aku menghela napas pelan lewat hidung.
Felix akhirnya angkat bicara. Nadanya rendah dan stabil — seperti selalu, di saat sesuatu yang serius hendak dikatakan.
"Ini bukan permainan anak-anak."
Ia menyeka minyak dari tangannya dengan lap lusuh yang selalu tergantung di pinggangnya, lalu matanya menyapu ruangan — bukan ke arah serpihan kilap yang bertebaran di udara, bukan ke cangkir matcha hijau di meja orang lain, melainkan memindai pintu keluar satu per satu, seperti tentara lama yang sedang menghitung titik penyergapan.
"Mereka tidak tahu Sensha-do yang sesungguhnya."
Ia berhenti sebentar. Kunci pas diletakkan pelan di atas meja.
"Itu bukan permainan. Itu bertahan hidup. Perang adalah satu-satunya yang kami punya."
Felix benar. Dulu, waktu kami bermain — pelurunya asli. Tidak ada tawa di sana. Hanya teriakan para peserta yang ingin segera mengakhiri semuanya, memohon belas kasihan dengan suara yang sudah hampir habis. Tapi kenyataannya? Mereka tidak bangun lagi. Dan sekarang, di luar sana, hologram tank masih berputar riang mengikuti musik pop — sementara di suatu tempat di Eropa, lubang-lubang peluru di dinding tua masih menganga, belum ada yang repot-repot menambalnya.
Poli mengangguk pelan. Allegra menyusul — tangannya yang tadi sibuk dengan gliter kini terlipat di meja. Keduanya, yang biasanya paling keras bercanda, kini masuk ke mode yang berbeda. Mode yang kami semua kenal sejak lama.
Nilai komunitas
—/5
Masuk untuk memberi nilai.
Komentar
Daftar datar (tanpa thread). Balas dengan menyebut @username di teks.
Izu | イズ
@izu
Baru ini kulihat cerita dengan latar post-war. Menarik juga. I must say it honestly. Kuharap next chapter bisa improve lagi, transitioningnya bagiku masih agak kaku. jumping transitionnya terlalu terasa, meskipun itu bukan main issue. Pemilihan kata juga mungkin bisa lebih dipertimbangkan ulang. But again, I must say, ini menarik. Looking forward for the next chapter
Masuk sebagai kreator yang disetujui untuk berkomentar.